ADOPTION PROCEDURE

Telephone khusus untuk adopter :
+62 811 3859 565
Alamat Pengiriman Berkas / Form Pre-Adopter & Adopter
Jl. By Pass Ngurah Rai No. 248D, Sanur, Post Code 80228

FORM PRE-ADOPTER
Download Here!

FORM ADOPTER
Download Here!

Currently adoption are only available for the citizen of Bali.

TATA CARA RESMI ADOPSI YAYASAN METTA MAMA & MAGGHA

Tata cara Adopsi telah diatur dalam undang – undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan anak yang di dukung oleh Peraturan Pemerintah No.54 Tahun 2007 yang dijelaskan lebih rinci dalam Peraturan Menteri Sosial Nomor 110 Tahun 2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak.

Syarat inti adopsi :
1. Pasangan harus berstatus menikah dengan usia maksimal 50 tahun.
2. Pasangan yang mengadopsi anak minimal telah menikah selama 5 tahun.
3. Pasangan harus mempunyai rumah pribadi.
4. Yayasan akan menentukan bayi untuk adopter sesuai chemistry, kemiripian fisik dan kecocokkan sesuai test psikolog.

Prosedur Adopsi sebagai berikut :
1. Menghubungi nomor khusus yang sudah disediakan diatas.

2. Mengisi Formulir Pre-Adopter yang telah disediakan oleh yayasan.Adopter tidak perlu memberi tahu pekerja yang berada di yayasan untuk menjaga privasi adopter.

3. Membuat janji temu dengan ketua yayasan Melakukan wawancara dengan pasangan suami istri yang berkehendak Mengadopsi Bayi, dengan sebelumnya dari pihak pasangan suami istri membuat janji temu dengan Ketua yayasan.

4. Home Visit. Setelah wawancara dengan pihak pasangan. selanjutnya dari Yayasan Metta Mama & Maggha akan membuat jadwal untuk Home Visit (Berkunjung) ke rumah.

5. Tahap Menyiapkan Dokumen. Apabila Yayasan menyatakan pasangan memenuhi Kriteria untuk mengajukan menjadi Calon Orang Tua Angkat (COTA), maka berhak Mengisi Formulir Permohonan Menjadi Calon Orang Tua Angkat ( COTA ) yang telah disediakan di Yayasan beserta melengkapi dokumen – dokumen Adopsi yang tertera dalam Formulir dan di lampirkan selengkap – lengkapnya.

6. Tahap Mengikuti Test Psikology. Pihak Pasangan Suami Istri wajib mengikuti Test Psikology, dengan Dokter Psikolog yang telah bekerjasama dengan Yayasan Metta Mama & Maggha.

7. Tahap Lolos Test Psikology. Apabila dinyatakan Lolos Test Psikology dengan hasil yang baik dan masuk kategori menjadi Calon Orang Tua Angkat ( COTA ). Yayasan akan memilihkan bayi sesuai dengan fisik orang tua , sesuai hasil psikology.

8. Tahap Mengikuti Bounding. Tahap ini merupakan tahap pendekatan dengan bayi di yayasan. Yayasan memberikan kebebasan kepada COTA untuk melakukan pendekatan dengan bayi setiap 2x dalam seminggu.

9. Tahap Rekomendasi ke Dinas Sosial Provinsi. Jika Selama 3 (tiga) bulan mengikuti Tahap Bounding II (kedua), Calon Orang Tua Angkat dinilai layak untuk menjadi Orang Tua Angkat. Maka dari Pihak Yayasan akan menerbitkan Surat Rekomendasi ke Dinas Sosial Provinsi.

10. Tahap Pengasuhan Sementara. Setelah diterima Surat Rekomendasi Yayasan, apabila disetujui oleh Dinas Sosial Provinsi. Maka Bayi akan diserahkan kepada Calon Orang Tua Angkat untuk Pengasuhan Sementara. Pengasuhan sementara dilakukan selama 6 – 12 bulan yang dimonitoring langsung oleh yayasan.

11. Tahap Rekomendasi ke Kementrian Sosial. Jika selama 6 (enam) bulan Pengasuhan sementara, COTA dinilai layak untuk dijadikan Orang Tua Angkat secara permanen maka Dinas Sosial Provinsi akan menerbitkan Surat Rekomendasi kepada Kementrian Sosial.

12. Tahap Persetujuan dari Tim PIPA. Setelah diterimanya Surat Rekomendasi, penilaian kelayakan Calon Orang Tua Angkat akan dibahas oleh Tim Pertimbangan Perizinan Pengangkatan Anak (PIPA) di KemenSos. Pada tahap ini, jika Tim PIPA menyetujui pengangkatan anak tersebut maka Akan terbit Surat Keputusan Menteri Sosial tentang persetujuan pengangkatan anak namun jika di tolak, maka anak akan dikembalikan ke Lembaga Pengasuhan Anak.

13. Surat Keputusan KemenSos. Jika Calon Orang Tua Angkat sudah mendapatkan Surat Keputusan MENSOS yang isinya menyetujui mengenai pengangkatan anak, maka Calon Orang Tua Angkat dapat mengajukan Permohonan Penetapan oleh Pengadilan Negeri di mana dilakukan pengangkatan anak tersebut.

14. Penetapan Pengadilan. Jika Penetapan Pengadilan sudah keluar, maka salinan penetapannya disampaikan lagi kepada Kementrian Sosial untuk dilakukan pencatatan oleh Kementrian Sosial. Barulah setelah pengangkatan anak mendapat penetapan pengadilan dan tercatat di Kementrian, pengangkatan anak menjadi sah secara hukum.

PENGANGKATAN ANAK SECARA PRIVATE ADOPTION
Pengangkatan anak secara privat, dilakukan antara calon orangtua angkat langsung dengan orangtua kandung/wali/kerabat di pengadilan, dengan melampirkan persyaratan pengangkatan anak dan rekomendasi dari instansi sosial provinsi. Oleh sebab itu COTA harus membuat permohonan kepada Kepala Dinas/Instansi Sosial Prov setempat agar memperoleh rekomendasi pengangkatan anak, dan pekerja sosial Dinas/Instansi Soaial Prov harus melakukan kunjungan ke rumah COTA untuk memperoleh gambaran apakah COTA layak memperoleh rekomendasi dimaksud.

Peryaratan (berkas/dokumen) yang harus dipenuhi oleh COTA
1. Permohonan ijin Pengangkatan Anak kepada instansi sosial setempat.
2. Surat Keterangan sehat COTA dari Rumah Sakit Pemerintah.
3. Surat Keterangan Kesehatan Jiwa COTA dari Dokter Spesialis Jiwa dari Rumah Sakit Pemerintah.
4. Surat keteranga tentang fungsi organ reproduksi COTA dari dokter spesialis Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Pemerintah.
5. Copy akta kelahiran COTA.
6. Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) setempat.
7. Copy surat nikah/akta perkawinan COTA.
8. Kartu keluarga dan KTP COTA.
9. Copy akta kelahiran CAA.
10. Keterangan penghasilan dari tempat bekerja COTA.
11. Surat pernyataan persetujuan CAA diatas kertas bermaterai cukup bagi anakyang telah mampu menyampaikan pendapatnya dan/atau hasil laporan Pekerja Sosial.
12. Surat pernyataan motivasi COTA di kertas bermaterai cukup yang menyatakan bahwa pengangkatan anakdemi kepentingan terbaik bagi anak dan perlindungan anak.
13. Surat pernyataan COTA akan memperlakuka anak angkat dan anak kandung tanpa diskriminasi sesuai dengan hak-hak dan kebutuhan anak diatas kertas bermaterai cukup.
14. Surat pernyataan bahwa COTA akan memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya dengan memperhatikan kesiapan anak.
15. Surat pernyataan COTA bahwa COTA tidak berhak menjadi Wali Nikah bagi anak angkat perempuan dan memberi kuasa kepada wali hakim.
16. Surat pernyataan COTA bahwa COTA untuk memberikan hibah sebagian hartanya bagi anak angkatnya.
17. Surat pernyataan persetujuan adoposi dari pihak keluarga COTA.
18. Surat berita acara/penyerahan dan kuasa dari pihak ibu kandung kepada COTA.
19. Laporan calon orang tua angkat yang dibuat oleh pekerjaan sosial instansi sosial setempat dan pekerja sosial panti/yayasan.
20. Akta kelahiran calon anak angkat.
21. Foto calon orang tua angkat suami istri ukuran 3x4 (4 lembar).
22. Rekomendasi proses pengangkatan anak dari instansi sosial provinsi kepada pengadilan.


PENGANGKATAN ANAK OLEH ORANG TUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Pengangkatan anak oleh orang tua tunggal merupakan pengangkatan anak yang dilakukan oleh WNI terhadap anak WNI dimana calon orang tua angkat bersetatus orangtua tunggal.

Alur/tatacara pengangkatan anak orang tua tunggal dapat dilihat dibawah ini:
1. Calon orang tua angkat tunggal, untuk pertama kali harus datang ke:
a. Intansi sosial setempat dan menyampaikan maksud untuk mengangkat anak. Setelah intansi sosial mengkaji dan menelaah, sementara COTA diarahkan untuk konsultasi ke panti/yayasan yang diberi ijin atau ditunjuk oleh gubernur untuk proses pengangkatan anak domestik (apabila COTA sudah datang ke panti/yayasan, maka pihak panti \yayasan memberitahukan bahwa sebelum pengangkatan anak diproses, COTA harus datang keinstansi sosial setempat)
b. Instansi sosial setempat memberi persetujuan kepada COTA agar dapat memproses dengan melengkapi persyaratan/dokumen : surat permohonan, surat akta kelahiran COTA, surat cerai bagi yang pernah menikah.
2. Setelah COTA memenuhi syarat, instansi sosial provinsi mengarahkan COTA, kepanti/yayasan untuk melakukan proses pengangkatan anak lebih lanjut.
3. Panti/yayasan membuat permohonan kepada kepala instansi sosial setempat untuk menyetujui COTA mengangkat anak.
4. Panti atau yayasan yang diberi wewenang, menjelaskan/memberi keterangan/ konsultasi, tentang tata cara pengangkatan anak dan berkas/dokumen yang harus dipenuhi.
5. Setelah konsultasi, COTA harus mengumpulkan berkas/dokumen yang dibutuhkan untuk proses pengangkatan anak. (COTA harus mengirimkan fotokopi dokumen dan mengajukan permohonan pengangkatan anak kepada instansi sosial setempat)
6. Kepala instansi sosial setempat memberikan disposisi agar menindak lanjuti proses pengangkatan anak.
7. Setelah berkas/dokumen lengkap, maka panti atau yayasan, memohon kepada kepala instansi sosial setempat untuk mengadakan kunjungan rumah pertama (home visit I) agar dapat diketahui kondisi sosial ekonomi dan lingkungan calon orang tua angkat dengan melampirkan berkas/dokumen COTA.
8. Instansi sosial setempat membuat surat tugas kepada panti/yayasan untuk melaksanakan home visit I.
9. Setelah diadakan kunjungan rumah pertama, maka pekerjaan sosial instansi sosial setempat dan dan pekerja sosial panti/yayasan membuat laporan sosial COTA dengan diketahui oleh pejabat instansi sosial dan panti/yayasan.
10. Instansi sosial setempat menerbitkan surat keputusan ijin asuhan yang ditandatangani oleh kepala instansi sosial provinsi.
11. Setelah ijin pengasuhan diberikan oleh instansi sosial instansi, panti/yayasan akan melakukan poster care (asuhan anak) dan penyerahan anak.
12. Asuhan dilakukan oleh COTA, lebih kurang 6 (enam) bulan, apabila COTA melalaikan kewajibannya, maka ijin asuhan sementara akan dicabut dan anak diserahkan kembali ke panti/yayasan.
13. Setelah calon anak angkat diasuh selama lebih kurang 6 (enam) bulan, panti/yayasan memohon kunjungan rumah ke dua kepada kepala instansi sosial provinsi.
14. Kepala instansi sosial provinsi berkoordinasi dengan kementrian sosial direktorat kesejahteraan anak dan memberi tugas untuk melaksanakan kunjungan rumah ke (2) dua kepada pekerja sosial instansi sosial setempat dan pekerja sosial panti/yayasan.
15. Pekerja sosial instansi sosial setempat dan pekerja sosial panti/yayasan bersama pekerja sosial dari derektorat kesejahteraan sosial melaksanakan kunjungan rumah ke 2 (dua)
16. Setelah kunjungan rumah ke (2) dua, maka pihak pekerja sosial membuat laporan perkembangan anak selama diasuh oleh COTA.
17. Kemudian instansi sosial provinsi megajukan permohonan pemberian ijin pengangkatan anak orang tua tunggal kepada Menteri Sosial.
18. Kementrian sosoial mengadakan siding tim PIPA pusat, yang dihadiri oleh tim PIPA pusat yang meliputi kementrian Kesehatan, Kementrian Agama, Kementrian Hukum dan HAM, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Luar Negeri, Mabes POLRI, Kejaksaan Agung, KPAI,KOmnas Anak (Panti atau Yayasan dan Lain – Lain)
19. Pada saat Sidang Tim PIPA pusat, Anggota tim meneliti dan memeriksa berkas Cota, maka anggota tim memberikan tanggapan sesuai tupoksi.
20. Setelah dilaksanakan siding Tim PIPA pusat, Menteri Sosial C.Q Direktur Jendral rehabilitasi sosial mengeluarka surat ijin pengangkatan anak orang tua tunggal kepada Kepala Instansi Sosial Provinsi untuk menindak lanjuti proses pengangkatan anak ke Tim PIPA daerah,bagi Cota yang disetujui oleh Tim. Apabila Persyatan Cota dianggap Tim belum memenuhi Persyaratan maka proses pengangkatan anak ditunda.
21. Instansi sosial Provinsi mengadakan siding Tim PIPA daerah , anggota tim meneliti dan memeriksa berkas Cota, maka anggota tim memberikan tanggapan sesuai tupoksi.
22. Setelah dilaksanakan siding Tim PIPA, maka kepala instansi soaial Propinsi mengeluarkan keputusan Tim pertimbangan perijinan pengangkatana anaka dan surat rekomendasi kepala Intansi Sosial Provinsi untuk menindak lanjuti proses pengangkatan anak ke pengadilan.
23. Setelah kepala Instansi Sosial Provinsi menerbitkan surat rekomendasi pengangkatan maka Cota mengajukan Proses pengangkatan anak ke pengadilan untuk memperoleh penetapan sebagai anak angkat sah.
24. Setelah dikeluarkannya penetapan pengadilan maka Cota harus datang ke Instansi Sosial Provinsi dan Yayasan untuk dilakukan Pencatatan Data.
25. Cota Akan melakukan Pencatatan Akta kelahiran pengangkatan anak di Dinas Kependudukan Catatan Sipil.
26. Cota harus bersedia untuk melaporkan perkembangan anak setiap tahun sampai anak berusia 18 tahun atau dilaksanakan monitoring dan evaluasi oleh Instansi Sosial setempat.


For further and detail information, please contact us or just come by to our house.

Created By Anak Agung Alit Karnajaya - Copyright 2015