ADOPTION PROCEDURE

Telephone khusus untuk adopter :
+62 812 4672 0122
Alamat Pengiriman Berkas / Form Pre-Adopter & Adopter
Jl. Gunung Lawu No.30 Pemecutan Klod, Denpasar, Post Code 80112

FORM PRE-ADOPTER
Download Here!

FORM ADOPTER
Download Here!

Currently adoption are only available for the citizen of Bali.

TATA CARA RESMI ADOPSI YAYASAN METTA MAMA & MAGGHA

Tata cara Adopsi telah diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Yang di dukung oleh, Peraturan Pemerintah RI Nomor 54 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak. Yang dijelaskan lebih rinci dalam Peraturan Menteri Sosial RI Nomor 110/HUK/2009 tentang Persyaratan Pengangkatan Anak.

Syarat inti adopsi :
1. Pasangan harus berstatus menikah dengan usia maksimal 50 tahun.
2. Pasangan yang mengadopsi anak minimal telah menikah selama 5 tahun.
3. Pasangan harus mempunyai rumah pribadi.
4. Yayasan akan menentukan bayi untuk adopter sesuai chemistry, kemiripian fisik dan kecocokkan sesuai test psikolog.

Prosedur Adopsi sebagai berikut :
1. Mengisi Formulir Pre-Adopter
Pasangan suami istri wajib mengisi formulir Pre-Adopter yang telah disediakan oleh Yayasan

2. Mengirimkan Formulir Pre-Adopter ke Yayasan
Setelah mengisi formulir Pre-Adopter, Pasangan Suami Istri wajib mengirimkan formulir tersebut ke Yayasan.

3. Interview I
Apabila formulir Pre-Adopter memenuhi syarat, Pasangan Pre-Adopter akan dihubungi oleh Yayasan untuk melakukan proses Interview I bersama Ketua Umum atau Ketua Yayasan

4. Mengisi Formulir Adopter
Apabila dinyatakan lolos pada proses Inteview I, maka prosedur selanjutnya Pasangan Pre-Adopter wajib mengisi dan melengkapi syarat adopsi pada Form Adopter.

5. Interview II
Apabila formulir Adopter memenuhi syarat, Pasangan Adopter akan dihubungi oleh Yayasan untuk melakukan proses interview II bersama Ketua Umum atau Ketua Yayasan.

6. Test Psikologi
Apabila hasil interview II dinyatakan lolos, maka proses selanjutnya ke tahap Test Psikologi dengan psikolog yang ditunjuk oleh pihak Yayasan

7. Interview III
Apabila test psikologi telah dinyatakan lolos dengan hasil yang baik dan masuk kategori menjadi Calon Orang Tua Angkat, maka Pasangan Adopter akan dihubungi oleh Yayasan untuk melakukan proses interview III bersama Ketua Yayasan dengan tujuan membahas hasil test psikologi

8. Home Visit dan Bertemu Keluarga Besar
Apabila hasil interview III dinyatakan lolos, pihak Yayasan dan Dinas Sosial akan melakukan kunjungan ( home visit ) ke rumah Adopter dan bertemu dengan keluarga besar untuk mengetahui kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan dari Adopter

9. Tahap Bonding / Pendekatan
Tahapan ini merupakan tahapan pendekatan yang dilakukan oleh Adopter dengan bayi yang telah ditentukan oleh Yayasan. Yayasan memberikan kebebasan kepada COTA untuk melakukan pendekatan dengan bayi setiap 2x dalam seminggu

10. Tahap Pengasuhan Sementara.
Apabila proses bonding dinyatakan layak, maka tahapan selanjutnya akan diserahkan Sementara Kepada Calon Orang Tua Angkat (COTA) untuk melakukan Pengasuhan Sementara. Pengasuhan sementara dilakukan selama 6 – 12 bulan yang dimonitoring langsung oleh yayasan.

11. Home Visit oleh Dinas Sosial dan Yayasan.
Setelah 6 bulan anak dalam pengasuhan sementara Calon Orang Tua Angkat (COTA), Yayasan bersama Dinas Sosial melakukan kunjungan (home visit ) untuk memonitoring tumbuh kembang anak.

12. Ijin Rekomendasi dari Dinas Sosial.
Dari hasil laporan perkembangan anak yang menghasilkan hasil yang baik, maka proses selanjutnya Dinas Sosial akan mengeluarkan Ijin Rekomendasi Pengangkatan Anak dan Surat Rekomendasi dari Dinas Perijinan

13. Penetapan Pengadilan.
Setelah Calon Orang Tua Angkat (COTA) mendapatkan Ijin Rekomendasi Pengangkatan Anak dari Dinas Sosial dengan persetujuan Dinas Perijinan, maka berikutnya proses dapat dilanjutkan ke penetapan pengadilan.

14. Terdaftar sebagai Anak Adopsi Secara Sah di Kementerian Sosial
Setelah adanya penetapan pengadilan, salinan penetapannya disampaikan kepada Kementerian Sosial untuk dilakukan pencatatan. Dengan adanya penetapan pengadilan dan tercatat di Kementerian Sosial, pengangkatan anak menjadi sah secara hukum

15. Monitoring Anak Adopsi
Setelah adanya penetapan pengadilan dan tercatatnya di Kementerian Sosial, pihak yayasan akan terus melakukan monitoring secara intensif

PENGANGKATAN ANAK OLEH ORANG TUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
Pengangkatan anak oleh orang tua tunggal merupakan pengangkatan anak yang dilakukan oleh WNI terhadap anak WNI dimana calon orang tua angkat bersetatus orangtua tunggal.

Alur/tatacara pengangkatan anak orang tua tunggal dapat dilihat dibawah ini:
1. Calon orang tua angkat tunggal, untuk pertama kali harus datang ke:
a. Intansi sosial setempat dan menyampaikan maksud untuk mengangkat anak. Setelah intansi sosial mengkaji dan menelaah, sementara COTA diarahkan untuk konsultasi ke panti/yayasan yang diberi ijin atau ditunjuk oleh gubernur untuk proses pengangkatan anak domestik (apabila COTA sudah datang ke panti/yayasan, maka pihak panti \yayasan memberitahukan bahwa sebelum pengangkatan anak diproses, COTA harus datang keinstansi sosial setempat)
b. Instansi sosial setempat memberi persetujuan kepada COTA agar dapat memproses dengan melengkapi persyaratan/dokumen : surat permohonan, surat akta kelahiran COTA, surat cerai bagi yang pernah menikah.
2. Setelah COTA memenuhi syarat, instansi sosial provinsi mengarahkan COTA, kepanti/yayasan untuk melakukan proses pengangkatan anak lebih lanjut.
3. Panti/yayasan membuat permohonan kepada kepala instansi sosial setempat untuk menyetujui COTA mengangkat anak.
4. Panti atau yayasan yang diberi wewenang, menjelaskan/memberi keterangan/ konsultasi, tentang tata cara pengangkatan anak dan berkas/dokumen yang harus dipenuhi.
5. Setelah konsultasi, COTA harus mengumpulkan berkas/dokumen yang dibutuhkan untuk proses pengangkatan anak. (COTA harus mengirimkan fotokopi dokumen dan mengajukan permohonan pengangkatan anak kepada instansi sosial setempat)
6. Kepala instansi sosial setempat memberikan disposisi agar menindak lanjuti proses pengangkatan anak.
7. Setelah berkas/dokumen lengkap, maka panti atau yayasan, memohon kepada kepala instansi sosial setempat untuk mengadakan kunjungan rumah pertama (home visit I) agar dapat diketahui kondisi sosial ekonomi dan lingkungan calon orang tua angkat dengan melampirkan berkas/dokumen COTA.
8. Instansi sosial setempat membuat surat tugas kepada panti/yayasan untuk melaksanakan home visit I.
9. Setelah diadakan kunjungan rumah pertama, maka pekerjaan sosial instansi sosial setempat dan dan pekerja sosial panti/yayasan membuat laporan sosial COTA dengan diketahui oleh pejabat instansi sosial dan panti/yayasan.
10. Instansi sosial setempat menerbitkan surat keputusan ijin asuhan yang ditandatangani oleh kepala instansi sosial provinsi.
11. Setelah ijin pengasuhan diberikan oleh instansi sosial instansi, panti/yayasan akan melakukan poster care (asuhan anak) dan penyerahan anak.
12. Asuhan dilakukan oleh COTA, lebih kurang 6 (enam) bulan, apabila COTA melalaikan kewajibannya, maka ijin asuhan sementara akan dicabut dan anak diserahkan kembali ke panti/yayasan.
13. Setelah calon anak angkat diasuh selama lebih kurang 6 (enam) bulan, panti/yayasan memohon kunjungan rumah ke dua kepada kepala instansi sosial provinsi.
14. Kepala instansi sosial provinsi berkoordinasi dengan kementrian sosial direktorat kesejahteraan anak dan memberi tugas untuk melaksanakan kunjungan rumah ke (2) dua kepada pekerja sosial instansi sosial setempat dan pekerja sosial panti/yayasan.
15. Pekerja sosial instansi sosial setempat dan pekerja sosial panti/yayasan bersama pekerja sosial dari derektorat kesejahteraan sosial melaksanakan kunjungan rumah ke 2 (dua)
16. Setelah kunjungan rumah ke (2) dua, maka pihak pekerja sosial membuat laporan perkembangan anak selama diasuh oleh COTA.
17. Kemudian instansi sosial provinsi megajukan permohonan pemberian ijin pengangkatan anak orang tua tunggal kepada Menteri Sosial.
18. Kementrian sosoial mengadakan siding tim PIPA pusat, yang dihadiri oleh tim PIPA pusat yang meliputi kementrian Kesehatan, Kementrian Agama, Kementrian Hukum dan HAM, Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Luar Negeri, Mabes POLRI, Kejaksaan Agung, KPAI,KOmnas Anak (Panti atau Yayasan dan Lain – Lain)
19. Pada saat Sidang Tim PIPA pusat, Anggota tim meneliti dan memeriksa berkas Cota, maka anggota tim memberikan tanggapan sesuai tupoksi.
20. Setelah dilaksanakan siding Tim PIPA pusat, Menteri Sosial C.Q Direktur Jendral rehabilitasi sosial mengeluarka surat ijin pengangkatan anak orang tua tunggal kepada Kepala Instansi Sosial Provinsi untuk menindak lanjuti proses pengangkatan anak ke Tim PIPA daerah,bagi Cota yang disetujui oleh Tim. Apabila Persyatan Cota dianggap Tim belum memenuhi Persyaratan maka proses pengangkatan anak ditunda.
21. Instansi sosial Provinsi mengadakan siding Tim PIPA daerah , anggota tim meneliti dan memeriksa berkas Cota, maka anggota tim memberikan tanggapan sesuai tupoksi.
22. Setelah dilaksanakan siding Tim PIPA, maka kepala instansi soaial Propinsi mengeluarkan keputusan Tim pertimbangan perijinan pengangkatana anaka dan surat rekomendasi kepala Intansi Sosial Provinsi untuk menindak lanjuti proses pengangkatan anak ke pengadilan.
23. Setelah kepala Instansi Sosial Provinsi menerbitkan surat rekomendasi pengangkatan maka Cota mengajukan Proses pengangkatan anak ke pengadilan untuk memperoleh penetapan sebagai anak angkat sah.
24. Setelah dikeluarkannya penetapan pengadilan maka Cota harus datang ke Instansi Sosial Provinsi dan Yayasan untuk dilakukan Pencatatan Data.
25. Cota Akan melakukan Pencatatan Akta kelahiran pengangkatan anak di Dinas Kependudukan Catatan Sipil.
26. Cota harus bersedia untuk melaporkan perkembangan anak setiap tahun sampai anak berusia 18 tahun atau dilaksanakan monitoring dan evaluasi oleh Instansi Sosial setempat.


For further and detail information, please contact us or just come by to our house.

Created By Anak Agung Alit Karnajaya - Copyright 2015